tansambak.desa.id – Dari lereng pegunungan Sumbing, seorang pemuda berupaya keras untuk menciptakan camilan yang sehat dari tanaman liar. Inovasi ini juga dibarengi sebuah kampanye agar setiap orang mau menanam dan mempedulikan tanaman liar yang justru jarang dilirik untuk makanan.

Jatuh bangun di bisnis keripik tak menyurutkan niat Amron Muhzawawi untuk tetap menggelutinya. Selama empat tahun, warga Desa Sambak, Kecamatan Kajoran ini mampu melihat peluang bisnis dari tanaman liar, pegagan atau daun kaki kuda yang tumbuh liar di pekarangan dan perkebunan.

Daun pegagan nama latin Centella asiatica ini, awalnya tidak banyak dilirik orang untuk menjadi sebuah camilan yang lezat. Memang, daun dari tanaman ini memiliki khasiat yang sangat banyak untuk kecantikan, kesuburan, bahkan bisa menyembuhkan beragam penyakit.

Namun, Amron dengan cerdasnya mengolah daun pegagan yang juga berkhasiat untuk meningkatkan kecerdasan dan daya ingat otak manusia itu menjadi keripik. Tanaman liar pegagan ini disulap menjadi keripik pegagan.

“Saya balut daun pegagan ini dengan tepung berbumbu aneka rempah kemudian digoreng. Cukup unik, karena belum banyak yang menggarap,” ujar Amron, Jumat (14/8/2015).

Dari berbagai eksperimen, akhirnya, Amron percaya diri untuk meluncurkan produk keripik pegagan dengan brand “Tandury”. Tandury juga baru merilis produk pertamanya berupa keripik pegagan. Kedepannya, pihaknya akan fokus menggarap camilan tradisional berbahan baku sayuran dan buah.

Untuk mencari bahan baku daun pegagan, Amron membelinya dari pekerja yang mencari pegagan liar di areal perkebunan atau pematang sawah. Daun pegagan itu, kemudian dibelinya secara kiloan. Selain itu juga karena bahan baku yang masih memetik dari tanaman liar. Sehingga, produk yang dijual pun masih terbatas jumlahnya.

“Dari segi rasa, keripik ini memang cukup asing di lidah. Ada sedikit rasa pahit, namun tak sampai mengganggu cita rasa. Ini karena pahitnya tak seberapa dibanding rasa gurih dari balutan tepung yang dibumbui aneka rempah-rempah,” paparnya.

Pecinta Alam

Selain mengutamakan rasa dengan harga terjangkau, Amron juga berupaya untuk tetap terlibat dalam kampanye penghijauan. Dari setiap bungkus Tandury yang terjual, ucapnya, akan disisihkan Rp 750 untuk pembelian bibit pohon. Jadi, tidak hanya untuk kepentingan bisnis semata.

“Nantinya bibit akan dibagikan kepara petani atau ditanam di wilayah-wilayah yang masih gundul. Teknis penanaman, nantinya akan bekerjasama dengan organisasi-organisasi pecinta alam. Seperti mahasiswa pecinta alam,” jelas salah satu finalis Eagle Awards ini.

Menurutnya, konsep penghijauan ini selaras dengan pemilihan nama Tandury yang diambil dari bahasa jawa. Artinya menanam atau tanami. Jadi, urainya, tagline Tandury adalah, memakan dan menanam.

Dia menyebut pola konsumsi demikian sebagai pola konsumsi yang bertanggung jawab. Yakni, tidak sekedar menikmati hasil alam. Namun juga berbuat untuk melestarikan alam. Bahkan, pola konsumsi berbasis kecintaan alam ini bisa menjadi salah satu gaya hidup kelak.

“Dengan kata lain, membeli produk Tandury adalah bersinonim dengan membeli bibit pohon. Konsumen yang membeli pohon, petani yang menanam, dan semua atau bahkan anak cucu mendatang kelak yang akan menikmati hasilnya,” kata Amron.

Sejauh ini, sistem pemasaran produk ini mengandalkan media sosial untuk menjaring para reseller dari berbagai penjuru kota di Indonesia. Produk ini menyasar ke anak-anak muda yang memiliki pola pikir kritis. Baik dalam keseharian maupun dalam pemilihan makanan.

“Bagi orang yang berpikiran kedepan, urusan makan itu bukan cuma urusan “kenyang”. Namun juga harus lezat, sehat dan mengandung nilai-nilai hidup dan sosial,” tuturnya.

Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM Kabupaten Magelang, Masrur mengapresiasi adanya produk dari UMKM di wilayahnya ini. Dia juga sangat mendukung konsep yang diusung Tandury.

“Tidak hanya menikmati camilan, tapi juga ikut melestarikan alam,” paparnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja

(Telah dibaca 177 kali, dibaca 1 kali hari ini)