sambak.desa.id – Industri media massa baik cetak maupun elektronik ternyata lebih banyak membawa dampak buruk bagi kehidupan masyarakat. konsumerisme dan hedonisme yang begitu getol dipropagandakan menjadi bancana sosial yang susah untuk diobati. Yang lebih parah adalah ketika beragam budaya asli bangsa ini kian terkikis karena media massa cenderung lebih senang mengumbar budaya barat.

2012-04-05 21.46.56Generasi muda kini tak lagi mengenal akar budaya mereka, kebajikan dan keluhuran budaya timur tak mampu membuat generasi muda tertarik untuk mempelajarinya. Generasi muda lebih asyik dengan budaya-budaya barat yang materialistis lagi hedonis. Tak heran jika saat ini banyak ragam budaya asli bangsa yang dijiplak dan dipatenkan oleh bangsa lain. Sebuah imbas dari ketidakseriusan bangsa ini dalam menjaga dan memperhatikan budaya asli bangsa.

Berbagai dampak buruk yang dibawa industri media massa tersebut ternyata tidak membuat pemerintah gerah, justru sampai detik ini pemerintah terkesan tidak serius dalam menanggulanginya. Dunia pendidikan yang diharapkan mampu untuk membentuk generasi yang mencintai budaya bangsanya pun ternyata tak luput dari kegagalan. Dunia pendidikan kini justru telah terkontaminasi dengan faham-faham yang akarnya adalah materialisme. Simak saja, betapa dunia pendidikan makin hari makin terbuka dalam menjual diri. Tidak ada pendidikan gratis, murah lagi berkualitas di negeri ini.

Sepertinya tidak ada cara lain untuk membentengi bangsa ini dari bencana moral sebagai imbas dari materialisme kecuali dengan menanamkan kembali ajaran-ajaran luhur budaya asli bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai transendental. Dunia pendidikan harus lebih menekankan bagaimana mereka mampu menanamkan nilai-nilai tersebut kepada para siswanya. Bukan sebaliknya sebagaimana yang terjadi sekarang, pelajaran mengenai kearifan budaya lokal sangat minim sekali didapatkan oleh siswa. hingga detik ini siswa hanya mengetahui kearifan budaya lokal dari mata pelajaran bahasa daerah. Inipun setelah adanya revisi kebijakan dari pemerintah, karena pelajaran ini dulu sempat dihapuskan.

Kalau memang industri media massa dengan market oriented-nya tak mau merubah diri untuk mau membeberkan beragam budaya asli bangsa. Maka menjadi tugas dunia pendidikanlah untuk menanamkan segala nilai-nilai tersebut, itupun kalau dunia pendidikan tak mau disebut sebagai industri pendidikan yang profit oriented.

Selain itu hadirnya media massa lokal yang menjunjung tinggi kearifan lokal pun sangat dibutuhkan untuk terus menggali dan memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat. namun kehadiran media massa lokal inipun tak sepenuhnya bisa menjamin kelestarian budaya, karena tidak banyak media massa lokal yang tercerabut dari akar budayanya dan justru turut serta dalam mempopuperkan budaya-budaya asing, sebagaimana radio-radio komersil di daerah-daerah.

Radio komunitas tampaknya menjadi satu-satunya media yang potensial untuk melestarikan budaya lokal. media massa ini mempunyai keunggulan yang lebih karena ia tidak mengejar keuntungan profit. Nilai demokratis sangat tersirat dari radio komunitas karena media ini bukan milik pribadi namun milik komunitas sehingga setiap kebijakan maupun program acara yang dihadirkan selalu diawali dengan musyawarah dari seluruh anggota komunitas. Beragam kearifan budaya lokal pun bisa dihadirkan dengan leluasa di radio komunitas karena mereka tidak terbebani oleh tuntutan sponsor.

Melihat berbagai manfaat positif dari kehadiran radio komunitas diatas, maka tidak berlebihan jika penulis sangat mendukung munculnya radio komunitas di seluruh tanah air. Untuk daerah yang belum ada radio komunitas segeralah mendirikan dan jadikan radio komunitas sebagai benteng untuk menjaga dan melestarikan keutuhan budaya asli bangsa yang luhur. salam budaya…!! (Amron Muhzawawi – Mantan wartawan, pengusaha keripik sutelo)

(Telah dibaca 234 kali, dibaca 1 kali hari ini)