IMG_8219MUNGKID – Proyek pembangunan embung di Desa Sambak Kecamatan Kajoran dihentikan. Sesuai rencana, target waktu penyelesaian embung di kaki Gunung Sumbing tersebut, seharusnya Desember 2015.

Namun, hingga kemarin (6/1), pembangunan masih menyisakan beberapa pekerjaan. Pembangunan dengan nilai Rp 3,3 miliar tersebut, baru berjalan 75 persen.

Kepala Desa Sambak, Kecamatan Kajoran Dahlan mengatakan, pembangunan embung dijadwalkan dari September hingga Desember 2015. Meski demikian, hingga pekerjaan dihentikan pembangunan baru berjalan 75 persen. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor.

“Pembangunan dimulai pada September dan target selesai pada 21 Desember 2015. Di tengah jalan, pembangunan tanggul mengalami jebol sebanyak tiga kali,” ungkap Dahlan kemarin (6/1).

Menurut dahlan, bangunan tanggul bisa jebol karena tidak kuat menyangga beban lumpur. Hingga batas waktu yang dijadwalkan pembangunan tak kunjung  juga selesai. Karenanya, harus dilanjutkan pada tahun ini.

“Bangunan embung bagian Selatan mengalami jebol terus, karena tidak kuat menyangga lumpur. Pembangunan dilanjutkan 2016 sambil menunggu musim terang. Sebelum dikerjakan, lumpur harus dihilangkan terlebih dahulu,” katanya.

Rencananya, embung ini untuk membantu produksi pertanian. Selain itu, embung juga berpotensi dikembangkan menjadi objek parwisata. Bahkan direncanakan, embung ini menjadi ikon Desa Sambak untuk menjadi desa wisata. Karena ada beberapa kendala, niat itu akhirnya terpaksa diurungkan.

Ia menjelaskan, hingga kini proyek baru berjalan 75 persen. Masih ada beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan. Yaitu, tempat parkir, pintu gerbang, dan lainya.

“Harapan kami, pembangun embung bisa cepat selesai. Melihat kondisi yang ada, hal ini tidak memungkinkan, sehingga tak mungkin selesai sesuai target,” urainya.

Sukis, Pengawas Pelaksana Proyek mengatakan, masih ada beberapa pekerjaan yang dilakukan di lokasi embung. Ia mengaku, semua itu hanya pekerjaan tambahan. Seperti, pemasangan pagar di pinggir jalan dan pekerjaan perapian tanah milik warga. Ini dilakukan, meski proses pembangunan  embung sudah dihentikan.

“Pekerjaan tambahan untuk memasang pagar biar aman. Pekerjaan lainya adalah merapikan tanah milik warga. Meski bukan merupakan pekerjaan proyek, proyek merapikan tanah masih tanggung jawab kami,” katanya.

Ia menambahkan, pembangunan tanggul pada salah satu sisi sempat mengalami jebol sebanyak tiga kali. Tanah lumpur yang sudah digali di luar dugaan mengalami longsor.

“Ke depan tender lagi. Karena tanggulnya tiga kali mengalami roboh,” katanya.

Pekerjaan rehabilitasi embung yang menghabiskan dana Rp 3,3 milar tersebut merupakan bantuan gubernur sekitar Rp 3 miliar. Sedangkan Rp 300 juta dari Pemkab Magelang. Proyek dikerjakan PT Dita Jati Pratama sebagai pelaksana proyek. Pembangunan tersebut ditargetkan selesai pada 21 Desember 2015.

Sumber: Radar Jogja

(Telah dibaca 327 kali, dibaca 1 kali hari ini)