sambak.desa.id – Hari kedua kegiatan Forum Desa Nusantara (9/2/2014) di Desa Sambak, Magelang, bertepatan dengan hari pasaran Wage. Tepat di hari yang sama, semenjak pukul 06.00 Bariyah (52) bersiap-siap untuk berjualan di pasar Desa Sambak. Bariyah adalah satu dari sekitar 5 pedagang yang tersisa di pasar Desa Sambak. Sayur mayur seperti kobis, wortel, mentimun, bumbu dapur, daging ayam, hingga makanan tradisional seperti cenil, kupat, jenang, dan kupat menjadi barang dagangan yang diperjualbelikan di pasar desa.

Sayur-Mayur-dan-kebutuhan-dapur-menjadi-barang-dagangan-andalan-di-Pasar-Desa-Sambak-namun-kini-mereka-hanya-jadi-pilihan-kedua-bagi-pembeli-karena-sudah-ada-pedagang-sayur-keliling-yang-bisa-menjangkau-hingga-rumah-ruPasar desa yang sudah ada sejak sebelum masa kemerdekaan (tahun 40-an) tersebut dahulunya buka setiap hari dengan kegiatan jual beli yang cukup ramai, namun era kejayaan tersebut semakin hari semakin redup. Hingga akhir 2010 hanya beberapa pedagang yang tersisa berjualan di pasar Desa Sambak. Usut punya usut, komoditas sayur mayur dan kebutuhan rumah tangga yang selama ini jadi andalan pedagang pasar desa, mulai juga dijual oleh pedagang keliling dan kios-kios di rumah warga. Situasi tersebut jelas membuat jumlah pembeli di pasar desa semakin turun.

Tasmin, Pedagang Pasar Desa Sambak berharap Pemerintah Desa kembali menggeliatkan kegiatan jual beli agar pasar desa kembali ramai seperti dahulu

 “Lha gimana lagi pak, di Desa Sambak saja sudah ada 10-an pedagang sayur keliling, 7 pedagang dari Wonosobo dan sisanya dari desa-desa sekitar Madukoro, Mergoyoso, dan Wuwuharjo. Mereka pakai sepeda motor dan datang ke rumah-rumah, dagangan mereka pun sudah sangat lengkap, jadi ya begini kondisi pasar desa sekarang, pasar hanya buka di hari pasaran Wage dan Pahing. Pembelinya pun sudah jauh berbeda sama tahun-tahun 2010 dulu,” papar Bariyah (52).

Pasar Desa Sambak kini hanya menjadi pilihan kedua bagi warga desa apabila pedagang sayur keliling tidak datang, selebihnya pedagang di pasar desa hanya melayani segelintir pelanggan tetap. Meskipun berjualan di pasar desa dirasakan cukup berat bagi para pedagang, namun semangat dan optimisme masih tersisa dari senyum dan raut wajah mereka. Mbah Wardiah (62) misalnya, masih meneruskan tradisi membawa hasil kebun disekitar rumahnya untuk dijual ke pasar. Mangga pakel, nanas, jambu dan hasil kebun lain bergantian sesuai musim tanam, selalu dibawa ke pasar oleh Mbah Wardiah setiap pasaran Wage dan Pahing. Uniknya Mbah Wardiyah dalam berjualan tidak memiliki patokan harga, karena pembelilah yang menentukan harga menyesuaikan harga umum di pasar.

Saat ditanya peran desa dalam pengembangan pasar, para pedagang menyampaikan selama ini Pemerintah Desa Sambak tidak banyak melakukan upaya untuk meningkatan kegiatan jual beli di pasar desa. Peran Pemerintah Desa Sambak masih terbatas dalam hal membantu perawatan dan perbaikan bangunan pasar melalui kegiatan kerja bakti.

Tampak Mbah Wardiyah (kiri) dan Bariyah (kanan) dua dari sedikit pedagang yang tersisa di Pasar Desa Sambak

“Kepada Pemerintah Desa Sambak, Harapan kami sederhana, bagaimana pasar desa bisa ramai kembali seperti tahun 2010 kebelakang. Misal pedagangnya dibuat semakin beragam, ada yang berdagang mainan anak-anak, pakaian, perabot rumah tangga, dan lain sebagainya.” ungkap Bariayah penuh harapan.

Meski Pasar Desa sudah sepi alias tidak seramai dulu, namun para pedagang yang tersisa di pasar desa, masih memiliki daya upaya agar barang dagangan mereka tetap terjual. Selain berjualan di Pasar Desa Sambak, Bariyah dan kawan-kawan juga menjual dagangan di rumah, tetangga sekitar, atau membawanya keliling untuk dijual ke karyawan di beberapa pabrik industri ketela di Desa Sambak

Sayur Mayur dan kebutuhan dapur menjadi barang dagangan  andalan di Pasar Desa Sambak, namun kini mereka hanya jadi pilihan kedua bagi pembeli, karena sudah ada pedagang sayur keliling yang bisa menjangkau hingga rumah-rumah warga

Sayur Mayur dan kebutuhan dapur menjadi barang dagangan andalan di Pasar Desa Sambak, namun kini mereka hanya jadi pilihan kedua bagi pembeli, karena sudah ada pedagang sayur keliling yang bisa menjangkau hingga rumah-rumah warga

Tanggapan soal pasar desa juga muncul dari Amin (23), pemuda Desa Sambak, Ia melihat ada persoalan kepemimpinan dan kinerja Kepala Desa yang harus diperbaiki. Amin mengamati bahwa hingga memasuki periode jabatan kedua, Kades Sambak belum memiliki gagasan yang pasti terkait rencana pembangunan desa.

Tampak sisa semangat dari wajah teduh Mbah Wardiyah yang setiap hari pasaran Wage dan Pahing rutin membawa hasil kebun untuk dijual di Pasar Desa Sambak

Tampak sisa semangat dari wajah teduh Mbah Wardiyah yang setiap hari pasaran Wage dan Pahing rutin membawa hasil kebun untuk dijual di Pasar Desa Sambak

“Jangankan soal pasar desa, soal kelompok pemuda juga menjadi keresahan Kami. Dulu di desa Sambak hanya ada 1 kelompok pemuda dan sangat aktif berkolaborasi dengan Pemerintah Desa, namun kini kelompok pemuda dipecah menjadi dulu, sehingga kini kami tidak sekompak dulu. Harapan kami kepemimpinan dan kinerja Kades harus terus ditingkatkan agar kekuatan kelompok pemuda bisa kembali disatukan untuk terlibat dalam proses pembangunan di desa.” pungkas Amin.

Sumber: www.forumdesa.or.id

(Telah dibaca 187 kali, dibaca 1 kali hari ini)