keripik singkong SuteloSambak.desa.id – Anda sering ngantuk? Coba usir rasa kantuk itu dengan mencicipi Sutelo level 5. Dijamin, mata langsung terbelalak, dan, mulut megap-megap! Kalau tak tahan, sedangkan Anda pecinta makanan pedas, jangan malu untuk turun ke level 3 atau 1.

SUTELO adalah merek keripik singkong ekstra pedas, buatan industri rumahan di Desa Sambak, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. Selain Sutelo, dari situ juga lahir Sukimpul dan Sutahu. Sukimpul adalah keripik talas, dan Sutahu keripik tahu. Semuanya pedas, dengan beberapa gradasi kepedasan yang berbeda-beda.

 “Kami sedang siapkan Sutempe dan Sugembus“, kata Amron Muhzawawi, pemilik Sutelo. Tentu saja, Sutempe adalah keripik tempe. Sedangkan Sugembus, keripik berbahan baku ampas tahu. Lagi-lagi, kedua produk ini bakal diolah dengan taburan bubuk lombok.

Sudah hampir 3 tahun Sutelo dkk ikut meramaikan pasar keripik pedas. “Sambutan konsumen sangat menggembirakan”, ucap Amron. Kini, tiap bulan, ia kudu menyiapkan minimal 30 ribu bungkus keripik, untuk dikirim ke berbagai daerah di pulau Jawa.  Ada sedikitnya 10 distributor yang siap bekerja di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, serta Banten dan DKI Jakarta.

 “Pemasaran luar Jawa sedang dirintis”, sambungnya.

Sutelo tak mau sepenuhnya mengekor merek lain, yang umumnya bercitarasa pedas-asin atau pedas-asam. “Ilat wong Jowo (lidah orang Jawa) identik dengan yang manis-manis”, kilah Amron. Karena itulah, baik Sutelo, Sukimpul dan Sutahu diolah sebagai perpaduan rasa pedas-manis. Kendati, sudah pasti, pedasnyalah yang tetap dominan dan menyengat.

Awal menjalankan usaha, kurang lebih 3 bulan Amron dan isterinya melakukan eksperimen, sebelum benar-benar memproduksinya dalam jumlah besar seperti sekarang. Keluarga, kerabat, tetangga hingga kawan-kawan diminta menyicipi.

 “Macam-macam bumbu pedas kami buat. Tiap hari kami menjajal cabai dengan macam-macam bumbu lainnya. Sampai akhirnya ketemu yang paling pas”, terangnya.

Ide membuat Sutelo, sebenarnya tercetus dari lingkungan. Desa Sambak, desanya Amron, merupakan salah satu sentra produksi keripik singkong di Kabupaten Magelang. Tapi, dari dulu rasa dan bungkusnya begitu-begitu saja.

“Saya ambil (keripik singkong) dari mereka. Kami jadi harus lebih mengawasi mutunya, sebelum diolah lagi jadi Sutelo yang sekarang ini”, ungkapnya.

Kalau Anda orang Jawa, tentu tahu apa arti kata “Su”. Su, yang sejak awal abad 19 banyak digunakan untuk nama orang, bisa diartikan “baik” atau “lebih baik”. Bermula dari istilah inilah, Amron mantap menggunakan Su untuk menamai setiap produk makanannya.

“Harapannya, tentu biar baik pemasarannya, kemasan, selain baik juga mutu dan rasanya”, jelas mantan wartawan dan redaktur sebuah koran lokal di Magelang ini.

Akan tetapi, ia akui, saat ini kata Su memang kerap berubah makna, terutama di kalangan anak muda. Su yang sekarang, lebih populer sebagai kata umpatan. “Su kan singkatan dari asu (anjing)”, Amron terkekeh. “Nggak masalah. Yang penting maksudnya bukan itu”.

(Sahrudin/magelangimages.wordpress.com)




(Telah dibaca 894 kali, dibaca 1 kali hari ini)