IMG_8992sambak.desa.id – Warga dusun sindon desa sambak kecamatan kajoran kabupaten Magelang berhasil mengolah limbah tahu menjadi biogas untuk kebutuhan rumah tangga. Hal ini dapat mengurangi pencemaran limbah dari pabrik tahu yang dibuang kesungai-sungai. Selain baunya yang menyengat, limbah tahu juga merusak ekosistem yang ada. Namun sekarang hal itu bisa teratasi berkat kesadaran pemilik pabrik tahu yang menampung limbahnya kedalam satu tempat. Demikian dijelaskan Suryadi (41) kepala dusun sindon kamis (12/05/2016).

Awalnya, suryadi mendapat “komplain” dari sebagian besar warga yang terkena dampak limbah tahu. Lalu ia meneruskan laporan tersebut ke Pemerintah Kabupaten Magelang. Namun tidak ada tanggapan dikarenakan tidak ada alokasi dana untuk hal itu.

“Dulu saya itu sering dikomplain warga gara-gara limbah tahu yang menggangu. Kebetulan di dusun kami memang banyak pabrik tahu. Komplain warga tersebut saya konsultasikan ke kepala desa,  kemudian kepala desa menyarankan meminta solusi dan bantuan ke pemkab.” Tuturnya mengenang perjuangannya dulu.

Adalah Usman, warga setempat yang menginisiasi dan membantu agar biogas segera terealisasi. Tak menyerah begitu saja, berkat Usman lah angin segar datang. Usman, Suryadi dan beberapa warga lain mendengar peluang bahwa Dinas Lingkungan Hidup provinsi jawa tengah ada program terkait dengan pengolahan limbah tahu. Tak menyia-nyiakan kesempatan, akhiranya mereka berusaha membuat proposal yang ditujukan kepada Dinas Lingkungan Hidup jateng tentang solusi pengolahan limbah. Dana bantuan dari Dinas LH Jateng akhirnya turun sekitar 130 Juta rupiah.

Masalah lain ternyata muncul, beberapa pemilik pabrik tahu rupanya enggan dan cenderung menolak pengolahan limbah tahu dengan alasan yang beragam. Dari mulai ragu apakah akan berhasil, sampai mempertanyakan nilai ekonomisnya. Bahkan warga pun susah sekali diajak berkumpul membahas tersebut. Namun demikian, berkat pendekatan yang dilakukan oleh Usman akhirnya pemilik pabrik tahu mau menerimanya.

“Wah kalau diceritakan dari awal panjang sekali. Dulu itu pemilik pabrik tahu juga meragukan dan cenderung menolak tentang pengolahan limbah ini dengan alasan beragam. Dari nilai ekonomis sampai ragu apakah bisa berhasil. Disamping itu, mengajak berkumpul bahas ini saja susah sekali” Kenangnya.

Namun itu dulu, seiring berjalannya waktu sekarang warga sudah bisa menikmati hasilnya. Sekitar 15 kepala rumah tangga sudah menggunakan biogas dari limbah tahu untuk kebutuhan rumah tangga. Warga tak perlu lagi membeli Elpiji (LPG) untuk sekedar memasak air dan kebutuhan lainnya di dapur.

Penampungan Limbah Tahu“Limbah tahu kita tampung di satu titik. Kebetulan ada tiga pabrik tahu yang jaraknya agak berdekatan bersedia limbahnya ditampung. Tadinya baru pemilik pabrik yang menggunakan biogas. Namun setelah banyak warga yang tahu mereka akhirnya tertarik. Sekarang, sekitar 15 kepala keluarga yang sudah pasang biogas secara swadaya”. Kata Usman yang sudah berpengalaman dalam menggarap pengolahan limbah di berbagai kota di Indonesia ini.

Usman berharap beberapa pabrik tahu juga menerapkan hal yang sama agar limbah tidak lagi menjadi masalah namun justru bermanfaat. Dia berharap pemerintah memberi perhatian lebih terhadap hal ini. Karena jika mengandalkan swadaya warga saja, biayanya terlalu besar.

“Harapan kita pabrik-pabrik tahu yang ada menerapkan hal yang sama. Tidak hanya pabrik tahu saja, bahkan bagi yang punya ternak, limbah kotorannya juga bisa diolah menjadi Biogas. Baik secara swadaya maupun meminta bantuan dari pemerintah. Karena saya yakin jika ini secara konsisten dilakukan, bukan tidak mungkin Desa Sambak bisa menjadi Desa Mandiri Energi.” Pungkasnya. (***)

(Telah dibaca 445 kali, dibaca 1 kali hari ini)